• Home
  • Hukum
  • Dalam Eksepsi Ramdahan Pohan, Nama Anif Shah dan Beni Basri Disebut
Bank Sumut

Dalam Eksepsi Ramdahan Pohan, Nama Anif Shah dan Beni Basri Disebut

Oleh: Admin
Selasa, 10 Jan 2017 21:59
Dibaca: 458 kali
istimewa
Sidang terdakwa Ramadhan Pohan.
DINAMIKARAKYATCOM - Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat Ramadhan Pohan menyalahkan Savita Linda Hora Panjaitan relawan donatur Pemenangan REDI dalam kasus dugaan penipuan yang menjeratnya.

"Saya sudah kalah Pileg, kalah Pilkada, tidak punya uang apalagi jabatan, malah tersandung kasus disangka melakukan penipuan dan utang lebih Rp 15 miliar," kata Ramadhan Pohan saat menyampaikan eksepsi pribadinya dalam sidang di Pengadilan Negeri Medan, Selasa (10/1/2017).

Mantan calon Walikota Medan itu mengatakan Linda Savita yang mendekati istrinya untuk membantunya dalam Pemilu 2014 dari Dapil Sumut. Linda juga sangat intensif mendekatinya usai penetapan Ramadhan dan Eddie Kusuma sebagai paslon Walikota dan Wakil Wlikota Medan, 27 Juli 2015.

"Mereka yang bertransaksi kok saya yang diminta pertanggungjawaban. Saya ingat betul, Linda pun sempat menawarkan diri menjembatani kami dengan pemilik Posko. Linda bilang Inang Lundu Panjaitan dan Inang RH Simanjuntak mengenal dekat pemilik posko. Beberapa hari kemudian seorang rekan memanggil saya supaya berhati-hati sama Linda," ucap Ramadhan di hadapan majelis hakim yang dipimpin Djaniko MH Girsang.

Menurut Ramadhan untuk menyakinkan dirinya, Linda juga menyebut dirinya bersahabat dengan isteri mantan Kapolrestabes Medan Mardiaz Kusin Dwi Hananto, dekat dengan isteri pengusaha Beni Basri, dan dekat dengan keluarga Pak Hanif Shah. Linda juga mengatakan akan melepas kebun kelapa sawitnya demi membantu biaya kampanye REDI.

"Linda berhasil meyakinkan saya. Bagi saya mengenal Linda benar-benar banyak misterinya kini. Dia dulu meminta saya membuka rekening Bank Mandiri yang katanya untuk menampung dana-dana para donator. Faktanya sejak rekening itu dibuka, setoran awal tunainya dieksekusi Linda, uang yang masuk ke rekening itu cuma setoran awal, itu aja," ucapnya.

Bahkan menurut Ramadhan, sampai detik terakhir rekening dibekukan, angkanya tidak pernah bertambah dari setoran awal yang di bawah Rp 10 juta. Bolak-balik adanya transaksi atau penarikan dan penyetoran uang terjadi antara Inang Sianipar dengan Linda dan di rekening mereka sendiri.

"Walau kata mereka semua dana untuk Ramadhan Pohan, anehnya kok tidak ada serupiah pun yang mampir di rekening yang dibuka atas nama saya sendiri. Saya heran dan kecewa pada Linda," katanya.

Ramadhan mengaku tidak sadar ketika disuruh membubuhkan tandatangan yang belakangan ia ketahui dimaksudkan sebagai utang atau pinjaman. Dia mengatakan terperdaya dan masuk dalam perangkap. Karena harusnya setiap utang dan pinjaman, mestinya didahului dengan perikatan perjanjian hitam di atas putih, Nyatanya, ini tak ada sama sekali.

"Perlu saya tegaskan, bahwa saya tidak pernah menerima atau bahkan melihat uang itu sama sekalipun tidak pernah. Lalu kenapa saya dimintai pertanggungjawaban? Tetapi sebagai politisi, saya harus kuat menghadapinya," akunya.

Di tempat yang sama, penasehat hukum Ramadhan Pohan, yakni Johari Damanik mengatakan latar belakang dari didakwanya tidak lain adalah adanya upaya rekayasa kriminalisasi atas hubungan kedekatan terdakwa Ramadhan Pohan dengan salah seorang yang mengaku dan bertindak seolah dirinya donatur kampanye pencalonan Terdakwa dalam kontes Pilkada Kota Medan tahun 2015.

" Pelapor (saksi Rotua Hodnida Simanuntak dan saksi Laurenz Henry Hamonangan Sianipar) dalam perkara ini sesungguhnya telah mengajukan gugatan perdata (wanprestasi) terhadap terdakwa, Isteri Ramadhan," ujar Johari di persidangan.

Dia menyebut gugatan perdata tersebut sudah masuk di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, perkara perdata mana telah bergulir sejak tanggal 28 April 2016 dengan Register Perkara Nomor: 192/Pdt.G/2016/PN.JKT.TIM. dan telah diputus pada tanggal 5 Januari 2016 yang lalu sehingga perkaranya saat ini belum bekekuatan tetap.

"Hal tersebut memperlihatkan bahwa tuduhan tindak pidana yang dialamatkan kepada terdakwa Ramadhan Pohan, juga kepada Saksi Savita Linda Mora Panjaitan alias Savita Linda Hora Panjaitan adalah merupakan suatu rekayasa kriminalisasi, dengan menganggap transaksi pinjam meminjam (utang piutang) antara saksi Savita Linda Mora Panjaitan alias Savita Linda Hora Panjaitan dengan pelapor (saksi korban) sebagai perbuatan melawan hak/melawan hukum. Sehingga, dakwaan sebagaimana yang didakwakan kepada terdakwa Ramadhan Pohan, menurut hemat kami jelas merupakan dakwaan yang dipaksakan," jelasnya.

Dia menambahkan, dari argumentasi hukum tersebut terbukti bahwa surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dibuat dengan tidak cermat sehingga surat dakwaan tersebut menjadi kabur (obscuur libel).

"Dengan demikian maka sudah seharusnyalah Yang Mulia Majelis Hakim untuk menyatakan bahwa surat dakwaan batal demi hukum, hal ini sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung R.I No. 808 K/Pid/1984 tanggal 29 Juni 1985 yang menyebutkan perihal dakwaan tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap sehingga harus dinyatakan batal demi hukum, selanjutnya kami selaku penasihat hukum terdakwa Ramadhan Pohan dengan ini mohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara ini agar berkenan menetapkan dan memutuskan sebagai berikut," pungkas Johari.

Usai menyampaikan eksepsinya, tim pengacara Ramadhan Pohan setelah itu majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan dengan agenda tanggapan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ramadhan langsung meninggalkan ruang sidang. (art/drc)
T#g:Demokratjpupenipuanpoldasuramdhan pohansidang
Berita Terkait
  • Selasa, 24 Jan 2017 01:20

    Ketum Depalindo Sumut: Alasan Naiknya Biaya Adalah Tidak Tepat

    Kebijakan tersebut tidaklah sesuai dengan konsep tol laut dan nawacita yang dicanangkan Presiden RI Joko Widodo.

  • Minggu, 22 Jan 2017 23:41

    Tanggapi Kicaun SBY, Ini Kata Jokowi

    Ini bukan hanya menjadi manfaat tapi juga masalah karena banyaknya informasi yang ternyata tidak benar dan justru menjatuhkan.

  • Sabtu, 21 Jan 2017 16:34

    Seperti Nusron Wahid, Politikus PDIP: Hanya pak SBY dan Tuhan YME yang tau maksud cuitannya

    Ia juga heran, siapa pihak yang berkuasa menyebarkan fitnah dan berita hoax seperti dimaksud SBY.

  • Sabtu, 21 Jan 2017 16:21

    Wakil Ketua Komisi III: Pak SBY tidak menyinggung siapa-siapa

    Pak SBY tidak menyinggung siapa-siapa, tapi itu sebagai bentuk kepeduliannya kepada bangsa terhadap berita-berita hoax.

  • Sabtu, 21 Jan 2017 00:59

    Sindir SBY, Politisi Hanura Bela Jokowi

    Dulu presidennya Pak SBY dengan segala kelebihan dan kekurangan. Sekarang Pak Jokowi dengan segala kelebihan dan kekurangannya pula.

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2017 dinamikarakyat.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir